Sri Mulyani Nilai Kemenkeu Harusnya Dapat Rapor Biru

Sri Mulyani Nilai Kemenkeu Harusnya Dapat Rapor Biru

JAKARTA - Media Indonesia: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) seharusnya mendapatkan rapor biru dengan nilai 75. Ini disampaikan Menkeu Sri Mulyani dalam diskusi program 100 hari Trijaya FM di Warung Daun, Jakarta, Sabtu (30/1).

Setidaknya, ada empat langkah yang telah diambil Kemenkeu dalam program 100 hari. Pertama, diresmikannya National Single Window (NSW) menjadikan lalu lintas ekspor dan impor menjadi lebih efisien. Para eksportir dan importir tidak perlu pergi ke-15 instansi dan dapat dilakukan secara online. Pelayanan pelabuhan juga ditingkatkan menjadi 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu di empat pelabuhan.

Langkah kedua, kebijakan untuk renewable energi secara kompetitif. Energi yang bukan hanya menghasilkan listrik tapi juga menghasilkan energi yang sesuai dengan keprihatinan global terkait perubahan iklim. "Kita mempunyai banyak sumber energi sehingga tidak harus impor. Geotermal misalnya," ujar Sri. Untuk itu, Sri Mulyani menyarankan agar membuat strategi industri yang mendukung kesinambungan energi dengan menggunakan sumber daya yang ada.

Langkah ketiga, Kemenkeu telah menjaga rasa aman masyarakat dengan menjaga kestabilan harga-harga barang. "Sejak akhir 2009 dan sampai awal 2010, harga-harga masih stabil dengan tingkat inflasi yang masih sangat rendah," ujar Sri Mulyani.

Yang terakhir, telah ditetapkannya pembiayaan untuk infrastruktur yang selama ini menjadi masalah. Sri Mulyani berpendapat ini awal dari pembangunan infrastruktur akan berjalan dengan baik. Ekspansi besar PLN dengan program 10 ribu Mw pertama dan kedua juga adanya pos subsidi BBM dan listrik merupakan andalan Kemenkeu.

Ia berpendapat, program 100 hari merupakan sebuah gerbang untuk menuju kerja lima tahun ke depan. "Sebuah pemerintahan tidak bisa dinilai dalam 100 hari kerja," ungkapnya. Dalam diskusi itu, Sri Mulyani hanya menghadiri acara selama 15 menit karena mendapat tekanan dari demonstrasi yang digelar oleh Forum Komunikasi Ampera (amanat penderitaan rakyat) di depan Taman Ismail Marzuki. (OL-04)

Source