Tetap Relevan dengan Metode Agile

Tetap Relevan dengan Metode Agile

Oleh Humas LNSW

Apakah Anda familiar dengan istilah ‘metode agile’ yang belakangan banyak digunakan oleh perusahaan pengembang perangkat lunak (software) di seluruh dunia? Rabu ini (4/3), Lembaga National Single Window mengadakan Sharing Session Penerapan Metode Agile dalam Pengelolaan Project Sistem Informasi, dengan mengundang Bhimo Wikan Hantoro, Kepala Divisi Digital Transformation Leadership di PT Pegadaian (Persero).

Belakangan ini, dunia berkembang dengan sangat pesat dan dinamis. LNSW menyadari hal itu dan berusaha untuk terus adaptif agar tetap sejalan dengan tuntutan zaman. Karena itulah LNSW terus berupaya memperkaya wawasan organisasi mengenai perkembangan di luar yang mungkin diterapkan di LNSW.

Berbeda dengan metode waterfall, metode agile memiliki sifat yang sangat fleksibel. Penerapan metode agile diyakini dapat mempercepat penyelesaian perangkat lunak yang diperlukan, meningkatkan kemampuan perusahaan mengelola prioritas yang berubah, meningkatkan produktivitas, meningkatkan kesesuaian dengan kebutuhan pengguna, juga meningkatkan kualitas perangkat lunak. Maraknya perusahaan atau lembaga yang berusaha menerapkan metode agile, tidak terlepas dari cepatnya perubahan dunia di sekeliling kita dan perubahan itu sangat dipengaruhi oleh teknologi.

Sebagai contoh, kini pengguna layanan lazim mengharapkan layanan tersedia 24/7 dan mereka ingin dilayani secara cepat, tepat, juga personal. Bayangkan jika kebutuhan pengguna terus berkembang, tapi cara kerja pengembang perangkat lunak tetap kaku, tidak dapat fleksibel merespon kebutuhan yang berubah itu.

Metode ini memang sangat menarik. Sayangnya menurut Bhimo Wikan Hantoro, project agile sering gagal diimplementasikan. Di antara penyebab kegagalan implementasi itu adalah dominasi budaya perusahaan dan kurangnya dukungan manajemen untuk menghadapi transisi budaya yang menuntut fleksibilitas dalam beradaptasi terhadap kebutuhan masa kini.

Penerapan metode agile umumnya ditandai dengan berkurangnya frekuensi rapat koordinasi, tingginya inisiatif, dan meningkatnya tanggung jawab baik individu maupun sebagai tim. Ini karena ketika metode ini diterapkan, setiap orang dalam squad bersifat self steering dan bertanggung jawab secara end to end untuk menjawab kebutuhan. Setiap squad akan dapat menyelesaikan pekerjaan secara end to end karena terdiri dari orang-orang dengan latar belakang disiplin ilmu dan keahlian berbeda. Contohnya, dalam satu squad bisa terdiri dari bagian marketing, product management, formula management, data analysis, user experience, dan teknologi informasi.