Muwasiq, Jatuh Cinta Pada Data dan Elektronika

Muwasiq, Jatuh Cinta Pada Data dan Elektronika

Oleh Hera Khaerani

SYAHDAN, seorang bocah tengah duduk tenang di lantai rumahnya. Ia terlihat betah berkutat de­ngan solder listrik. Tubuh­nya yang kecil menjadikan pemandangan tersebut tampak ganjil.

Jika belum mengenal­nya dan tidak tahu betapa akrabnya dia dengan beragam perkakas, se­perti solder, mungkin orang dewasa akan langsung panik, khawatir ia akan melukai dirinya tanpa sengaja. Tapi, itulah Muwasiq Muhammad Noor, bocah kelahir­an Surabaya yang sejak sekolah dasar (SD) sudah sa­ngat familier de­ngan alat-alat kelistrik­an dan elektronik.

Uniknya bukan se­ka­dar menggunakan pe­rang­kat elektro­nik, dia justru terta­rik untuk merangkai perangkat itu sendiri. “Saya kelas 5 SD itu sudah mulai bikin rangkaian, bikin radio, dan sebagainya,” kisah Muwasiq tentang masa kecilnya kepada INSW Magz di kantornya, Jumat (22/3).

Ya, itu kisah dirinya sekitar empat dekade silam. Muwasiq, yang kini menginjak usia 48, ­telah menjelma pakar informasi tek­nologi dan sistem informasi, pakar fasilitasi perdagangan, single window, juga prosedur perdagangan internasional.

Sejak 2015 silam, Muwasiq menjabat Deputi Bidang Pengembangan dan Operasional Sistem, Pengelola Portal Indonesia National Single Window (INSW). Berkaca pada jejak kariernya, Muwasiq tidak menampik bahwa apa yang ia raih kini amat erat kaitannya dengan pe­ngalamannya di rumah semasa kecil dulu.

Di keluarga Muwasiq, bukan hanya dirinya yang menaruh minat pada elektronika, melainkan juga sang kakak. “Kakak saya juga se­nang (red: elektronika) tapi tidak mau mengajari adik­nya, jadi saya belajar sendiri,” ujar anak  kedua dari tiga bersaudara tersebut.

Kalau sudah dirundung penasaran, Muwasiq selalu berusaha keras untuk mencari tahu. Dia akan mencari orang yang lebih paham, lalu bertanya cara membuat­nya. Saat SD, dia pun kerap bertanya soal cara membaca nilai komponen, tentang resistor, dan masih banyak lagi. Maka, ketika masuk ke  sekolah menengah pertama (SMP) dan ada pelajaran ke­terampilan elektro, dia sudah cakap membuat banyak barang elektronik karena memang sudah mampu membuatnya sejak SD.

Minat Muwasiq pada kegiatan merakit ini tidak terlepas dari pola didikan ayahnya, Ispardjadi. Sosok lelaki yang dipandang Muwasiq sangat pandai dan bijak itu, saban membelikan mainan, selalu berupa yang merangsang otak seperti permainan balok-balok kayu yang bisa disusun menjadi rumah dan benda-benda lain. Pun ketika pulang dari studinya di Amerika, oleh-oleh yang dibawakan sang ayah banyak  terkait teknologi, seperti handy talky.

Ada juga oleh-oleh berupa buku cerita yang semua­nya menggunakan bahasa Inggris. Buku cerita yang di­bawakan ayahnya tersebut meninggalkan kesan mendalam karena semua tulisan­nya dalam bahasa Inggris dan dilengkapi buku audio dalam bentuk piring­an hitam.

Dengan mende­ngarkan piringan hitamnya, Muwasiq dan saudara-saudaranya­ jadi tahu cara mem­baca tulisan-tulisan dalam buku tersebut. Sambil melihat gambar-gambar dalam bukunya, mereka pun menerka-­nerka arti kata yang dibacakan. 

“Akhirnya kami bertiga tidak pernah kursus bahasa Inggris, tapi rata-rata bahasa Inggrisnya bagus,” ungkap Muwasiq.

Belum lagi ditambah kesempatan berlatih bahasa Inggris yang sengaja diciptakan sang ayah. Setiap kali ada temannya yang datang dari Amerika, pasti dilarang menginap di hotel.

Mereka akan diminta Ispardjadi menginap di rumah, agar anak-anaknya mendapat kesempatan berinteraksi secara intens de­ngan orang asing. “Begitulah cara ayah mendidik kami,” simpulnya.

Lalu, setiap Muwasiq i­ngin membeli komponen lis­trik untuk merakit se­suatu, ayahnya dengan setia me­ngantarnya ke toko komponen, sekalipun langit sudah beranjak gelap. Menurut dia, kalau untuk keinginan semacam itu, ayahnya memang selalu mendukung.

Kendati demikian, sang ayah juga mengajarkan kemandirian. Sedari kecil, me­reka semua diajari untuk tidak bergantung pada orang lain, dan harus belajar memperbaiki apapun.

“Meski laki-­laki, saya dilatih untuk bisa masak juga. Jadi bisa masak, bisa memper­baiki barang elektronik, memperbaiki me­sin mobil, juga menyetrika baju,” akunya.

“Prinsip Ayah begini, kalau nanti kamu tidak mampu bayar orang, paling tidak kamu bisa menyelesaikan masalah­mu sendiri. Kalau tidak bisa bayar tukang, punya ba­han bangunan sudah cu­kup karena bisa bangun sendiri. Makanya benerin apa­pun harus bisa,” Muwasiq me­ng­ulang ajaran ayah­nya.

Agar anak-anaknya dapat belajar memperbaiki barang, Ispardjadi biasa melibatkan mereka saat harus mere­parasi. Seperti ketika motor Vespanya bermasalah, anak-anak akan disuruh membantu mengambilkan kunci berbagai nomor yang diperlukan, ikut membersihkan, mencelupkan busi ke bensin, dan sebagainya.

Demikian pula ketika mobil keluarga mereka mogok, tidak pernah dibawa ke bengkel. Sang ayah sengaja memanggil tukang untuk memperbaiki mobil­nya di rumah dan mengajak anak-anaknya membantu. Alhasil, lama kelamaan me­reka pun paham soal mesin.

Mendengarkan kisah masa kecilnya dan dukungan sang ayah untuk memenuhi rasa ingin tahu anaknya yang tinggi, kesan soal keluarga yang serba berada memang mau tak mau, tergambar dalam benak. Namun siapa sangka, tidak demikianlah keadaannya. “Ayah saya itu tipenya mending kita makan telur dibagi untuk sekeluarga, daripada tidak bisa nurut­in hobi anaknya (red: me­rakit barang elektronik),” kisah Muwasiq.

Demi menambah pundi-­pundi rupiah untuk kebutuh­an keluarga, ayahnya yang dulu bekerja sebagai dosen di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya (red: kini Universitas Negeri Surabaya), saat pergi mengajar kerap membawa baju untuk dijual. Di sisi lain, Muwasiq pun biasa berjuang. “Saya dulu waktu SD juga jual es lilin,” ungkapnya menambahkan bahwa pengalaman sulit di masa lalu membuatnya menghargai hidup.

Komputer

dan Masa Depan

“Masa depan itu ada di komputer,” demikianlah perkataan ayah Muwasiq kepadanya yang masih belia. Ayahnya dulu pernah me­ng­ambil jurusan Statistika di Stanford University, Amerika Serikat. Dengan keyakinan soal komputer  sebagai jendela ke masa depan, ketika Muwasiq masih duduk di kelas 2 SMP, ayahnya menceritakan soal komputer kepada dia dan saudara-saudaranya.

Ayahnya pun berta­nya, “Kalian mau enggak belajar ini (red: hal-hal yang bisa dilakukan dengan komputer)?” Serempak, mereka semua antusias menjawab mau. Kala itu, komputer masih menjadi barang yang sa­ngat mahal. Namun, demi membeli komputer untuk anak-anaknya, Ispardjadi sampai rela berutang. 

“Ayah selalu bilang ke kami, orang tua tidak tahu kapan akan diambil. Yang bisa ia lakukan sebagai orang tua hanya memfasilitasi hal-hal untuk masa depan anak-anaknya,” kisah Muwasiq.

Mengawali masa kecilnya dengan hobi merakit barang elektronik lalu mulai me­ngenal komputer sejak kelas 2 SMP, interaksi Muwasiq dengan komputer pun berbeda ketika beranjak Sekolah Menengah Atas.

“Zaman segitu orang tahunya komputer cuma dipakai me­ngetik, tapi saya sudah bikin prog­ram komputer,” ungkapnya. Kemampuan membuat prog­ram itu menurutnya hasil belajar secara autodidak, de­ngan membaca buku.

Tidaklah mengherankan ketika lulus SMA, Muwasiq memilih kuliah di jurusan Teknik Elektro di Politeknik Brawijaya.

Lalu ketika me­ng­­­am­bil ge­lar sarjana, dia mengambil jurusan Teknik Elektro di Ins­titut Teknologi Sepuluh November (ITS). Dia pun tetap konsisten dengan bidang yang diminatinya saat menempuh S2 di Universitas Indonesia.

Apakah pernyataan sang ayah soal komputer merupakan masa depan masih relevan saat ini? Bagi Muwasiq, ya. Terutama kini ketika data mulai diakui sebagai aset, karena data diolah oleh komputer.

Sama halnya komputer yang bisa dimanfaatkan secara berbeda oleh orang berbeda, data juga demikian. “Kalau kita tahu cara meng­olahnya, data bisa jadi hal yang postitif. Tapi kalau kita salah mengolah, bisa jadi musibah,” cetusnya.

Mengambil kegiatan peng­olahan data di INSW sebagai contoh, Muwasiq mengatakan andai dirinya ingin mengolah data untuk dijual, tentu saja akan negatif. Lain halnya jika data diolah dan dianalisis untuk pengambil­an keputusan pemangku kebijakan nasional, pastinya akan positif karena me­nyangkut kepentingan ma­syarakat.

Tidak semua orang tahu cara mengolah data sekalipun data yang berharga sudah di depan mata. Data yang dikirimkan dari INSW ke instansi-­instansi lain juga tidak terkecuali. Ketika instansi yang menerima paham cara mengolah data, data itu jadi bermanfaat. Namun, jika mereka tidak paham cara mengolah data, dan hanya menyimpannya, tidak akan ada faedah dari data tersebut.

Tak Jemu Mencari Ilmu

Setelah merampungkan ku­li­ahnya di Politeknik Bra­wijaya, Muwasiq memulai karier pertamanya di PT  Indosat (1991). Hampir setahun dia bekerja di sana lalu memilih keluar untuk melanjutkan studi di ITS.

Kala itu berbekal kemampuannya merakit dan memperbaiki komputer, dia mampu membiayai kuliah­nya sendiri. Bisnisnya terbi­lang sukses. Toko kompu­ter milik­nya yang berada di Surabaya, dipercaya untuk memasok komputer ke perusahaan-perusahaan besar, bahkan menyuplai sampai ke luar Jawa. Dalam sebulan, tidak kurang dari Rp25 juta omzet yang bisa didapatnya. Jumlah yang terbilang besar pada masa itu (1992-1995).

Kendati demikian, keuntungan tersebut tidak me­nyilaukannya. Ketika ibunya memintanya untuk mencari pekerjaan alih-alih berwirausaha saja, Muwasiq yang memang tumbuh dengan prinsip pantang membantah ibunya, memilih menurut dan mencari kerja.

Perubahan karier setelah itu lumayan drastis. Muwasiq kemudian bekerja di PT Satelit Palapa Indonesia sebagai koordinator.

Tugas­nya di sana mulai dari meng­urusi pembebasan tanah dan surat-surat yang diperlukan, membuat rencana bisnis, pengelolaan anggaran, sampai tanah itu siap dibangun dan menara berdiri. “Itu semua belajar dari nol,” ung­kapnya.

Empat tahun bekerja di sana, Muwasiq sudah menjadi site coordinator. Diakui olehnya, pro­ses pembelajaran di bidang yang sama sekali baru bagi­nya itu menantang. Namun, ak­hir­nya ia dilanda kejenuh­an.  Makanya ketika ditawari bekerja di PT EDI Indonesia yang dipandang­nya menawarkan ilmu baru, yakni EDI (electronic data interchange) atau pertukaran data elektronik, rasa keingintahuannya terpancing. “Le­bih ada adrenalin kalau tertantang,” ujarnya terkekeh. 

Lagi-lagi belajar dari nol, Muwasiq mulai memahami standar pertukaran data elektronik beserta mekanisme pertukarannya.

Setelahnya, dia juga aktif berpartisipasi di organisasi fasilitasi perdagangan internasional sehingga pada ak­hirnya dianggap pakar bidang tersebut.

Pada kurun 2005-2006, ketika Indonesia harus membangun single window sesuai kesepakatan ASEAN, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menariknya bergabung dalam tim ahli untuk membangun national single window.

“Awalnya misi saya simpel saja, karena punya single window itu akan membanggakan Indonesia,” kata Muwasiq.

Menurut dia, sebelum punya single window yang berjalan, Indonesia sempat direndahkan di forum-forum ASEAN, dianggap sebagai negara yang bodoh, korup, dan dianggap tidak mung­kin sanggup membangun sistem yang besar. Jadi bersama tim kecil pionir NSW di Indonesia, ia komit memba­ngun NSW sekalipun anggar­an sangat terbatas.

Pada akhirnya ketika Pe­ngelola Portal INSW dibentuk pada 2015, dia ditunjuk menjadi Deputi Bidang Opera­sional dan Pengembangan Sistem. Jabatan itu diembannya hingga kini. Ketika ditanyai apakah bertahun-tahun di INSW masih menawarkan banyak hal yang perlu dipelajari dan membuatnya tertantang, Muwa­siq mengaku masih banyak.

“Saat ini kita punya INSW generasi 1 yang masih jauh dari sempurna, sementara national single window di dunia sudah menggunakan hal-hal baru yang mena­rik untuk dipelajari dan diadopsi agar kita tidak ketinggalan,” ungkapnya.

Dia juga menyinggung INSW yang masih berbasis PC, sementara dewasa ini sebagian besar aktivitas orang dikendalikan oleh perangkat mobile. Hal itu masih menjadi tantangan yang dia harap bisa segera diatasi.

Muwasiq juga menyadari tantang­an yang dihadapi­nya kini bukan hanya perkara pembelajaran ilmu baru dan kemauan ber­inovasi, tapi terkait birokrasi, masalah anggaran, dan prosedur. Jadi, ya, berada di INSW membuat­nya jauh dari bo­san karena ba­nyak sekali yang masih harus ia pelajari dan masalah yang harus ia atasi.

Hingga kini, Muwasiq pun selalu teringat petuah ayah­nya yang telah tutup usia. Jika hidup diibaratkan roda, kita hendaknya ja­ngan memilih menjadi rodanya. Kalau mengejar jabatan tinggi, bagian luar roda yang diambil. Jika begitu, ada kalanya kita di atas. Tapi ketika di atas itu, kita kerap tidak sadar akan menginjak bagian roda yang di bawahnya.

“Jadi upayakan hidup sebagai as roda yang di tengah. As roda memang tidak kelihatan, tapi itu inti dari roda. Tanpanya, roda takkan bisa berputar. Dalam hidup tidak usah berpikir mau menjadi apa, tapi pikirkan apa yang bisa kamu lakukan untuk lingkunganmu. Itu lebih berharga,” kisah Muwasiq yang ingin menjadi as roda untuk INSW dan Indonesia.

(Tulisan sebelumnya pernah dimuat di INSW Magz Edisi Kelima)