Setahun Beroperasi, Indonesia Aktif Manfaatkan ASW

Setahun Beroperasi, Indonesia Aktif Manfaatkan ASW

Oleh Ali Manshur

ASEAN Single Window, atau biasa disingkat ASW, mulai diterapkan di Indonesia sejak Januari 2018. Pengimplementasiannya  ditandai dengan pertukaran dokumen electronic certificate of origin Form D (e-Form D) dengan 4 negara, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Pada tahun pertama peng­aplikasiannya, Indonesia tercatat sebagai negara yang paling aktif memanfaatkan ASW.  Dari sisi penerbitan, pada 2018, Indonesia me­nerbitkan kurang lebih 197 ribu dokumen certificate of origin (CO) Form D, dengan lebih dari 85% dikirimkan secara elektronik ke negara importir melalui ASW.

Di Indonesia, penerbit­an CO Form D dilakukan melalui aplikasi e-SKA (ElectronicCertificate of Origin Service).Data elektronik dari CO tersebut akan dikonversi menjadi e-Form D dan dikirimkan ke negara importir setelah divalidasi sistem INSW.

Validasi diperlukan untuk memeriksa kesesuaian elemen data e-Form D dengan struktur data yang disepa­kati di ASEAN. Adapun Malaysia dan Thailand merupakan dua negara yang paling ba­nyak menerima data e-Form D dari Indonesia.

Akan tetapi, walaupun aktif memanfaatkan ASW untuk pengiriman data e-Form D, sampai kini Indonesia belum menerima feedback informasi mengenai utilisasi e-Form D di negara importir dalam bentuk customs res­ponse.

Karena itu, pada pertemuan-­pertemuan­­ ASW, Indonesia aktif mendorong tercapai­nya kesepakatan untuk memandatorikan pengiriman customs response uti­lisasi e-Form D. Pasalnya, data customs response dapat dimanfaatkan untuk mengana­lisis untung rugi keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian per­dagangan bebas ASEAN.

Misalnya, dengan membandingkan antara pengurangan pembayaran bea masuk bagi barang ekspor Indonesia dan pembebasan bea masuk atas barang impor dari negara mitra.

Di sisi impor, pada 2018, Indonesia menerima sekitar 141 ribu e-Form D dari empat negara ASEAN. Di atas 80% bersumber dari Malaysia dan Thailand.

Meskipun jumlah e-Form D yang diterima itu tampak cukup besar, sejatinya masih sa­ngat minim daripada keseluruhan importasi berdokumen CO yang berkisar 783 ribu, atau 49% dari total importasi nasional. Arti­nya, pada 2018, baru 18% yang memanfaatkan e-Form D.

Gambaran itu mengindikasikan perlu­nya upaya mendorong pemanfaatan e-Form D. Sosialisasi harus digiatkan guna meningkatkan awareness pelaku usaha terhadap mekanisme ASW. Selain itu, di­butuhkan pula pertemuan internasional untuk memperluas cakupan negara yang menerapkan CO elektronik, baik e-Form D maupun jenis CO lainnya.

Dalam perkembangan­nya, pada April 2019, Brunei Darussalam mulai bergabung de­ngan ASW dan siap bertukar data e-Form D.

Negara-negara ASEAN lain memiliki perkembang­an beragam. Kamboja dan Filipina diperkirakan akan bergabung ke ASW pada tahun  ini, sedangkan Myanmar dan Laos masih butuh minimal satu tahun sebelum siap mengope­rasikan ASW.

Indonesia juga telah menginisiasi perun­dingan dengan Korea Selatan dan Jepang untuk kerja sama pertukaran CO elektronik secara bilateral. Bahkan, Indonesia dan Korea Selatan telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) pada 2 April 2019 di Bali.


(Tulisan sebelumnya pernah dimuat di INSW Magz Edisi Kelima)