Indonesia Segera Terapkan ASEAN Single Window

Indonesia Segera Terapkan ASEAN Single Window

Siaran Pers Pengelola Portal Indonesia National Single Window (INSW)

Pemerintah Indonesia segera mengintegrasikan data dan informasi terkait ekspor-impor di antara negara-negara ASEAN melalui satu sistem elektronik ASEAN Single Window (ASW). Dalam tahap awal, ASW akan mempertukarkan dokumen elektronik certificate of origin (Surat Keterangan Asal / SKA) di antara negara anggota ASEAN.

Pemerintah menggelar pertemuan ke-16 ASEAN Single Window Steering Committee (ASW-SC), di Jambi pada 1-3 Maret 2016.  Pertemuan ini diikuti delegasi dari semua negara anggota ASEAN, Sekretariat ASEAN, dan United State Agency for International Development (USAID).

"Pertemuan ini membahas beberapa isu penting seperti pembiayaan dan instrumen legal yang diperlukan untuk penerapan ASW," tegas Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Edy Putra Irawady, selaku Dewan Pengarah Indonesia National Single Window (INSW), dalam sambutan pembukaannya Selasa (1/3) di Hotel Aston, Jambi.

ASEAN Single Window (ASW) adalah sebuah infrastruktur teknologi informasi yang memungkinkan pertukaran dan pengintegrasian data dan informasi secara elektronik diantara National Single Window (NSW) Negara-negara Anggota ASEAN. Selanjutnya, ASW direncanakan akan mempertukarkan ASEAN Customs Declaration Document (ACDD) dan dokumen-dokumen logistik seperti Ocean Booking Confirmation,Loading Confirmation, dan Pre-Departure Export Manifest Summary serta dokumen karantina yaitu Sanitary and Phyto-Sanitary (SPS).

"Penerapan ASEAN Single!Window akan mendukung terwujudnya salah satu pilar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yaitu terbentuknya pasar dan basis produksi tunggal di kawasan Asia Tenggara," ujar Edy Putra.

Sejak berlakunya ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) pada tahun 2003, yang merupakan cikal bakal dari MEA, barang yang diimpor dari sesama negara anggota ASEAN dapat menikmati bea masuk preferensial dengan syarat dilengkapi dengan dokumen SKA. Namun demikian, dalam praktiknya, pemberian bea masuk preferensial tersebut seringkali mengalami hambatan atau tertunda penerapannya karena kontainer lebih dahulu tiba di pelabuhan sedangkan dokumen SKA-nya belum diterima oleh importir.

Dengan pertukaran dokumen SKA secara elektronik melalui ASW, permasalahan tersebut akan dapat diatasi. Penerapan ASW juga akan menjamin pemberian bea masuk preferensial dapat dilakukan secara cepat dan efektif sehingga akan dapat meningkatkan arus perdagangan antar Negara Anggota ASEAN. Ke depan, diharapkan sistem ini dapat memicu perbaikan kesejahteraan masyarakat ASEAN.

Seperti diketahui, ASW awalnya akan mulai diterapkan pada Desember 2015 lalu untuk 5 (lima) negara yang sudah memiliki Nastional Single Windo (NSW) yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Vietnam. Namun, karena masih terdapat kendala teknis pada NSW di beberapa Negara seperti Malaysia, Thailand dan Singapura, penerapan ASW diundur.

"Berdasarkan hasil parallel testing yang telah dilakukan antara bulan Oktober – Desember 2015, hanya Indonesia dan Vietnam yang sukses melakukan pertukaran data SKA. Sedangkan negara ASEAN lainnya masih perlu perbaikan secara teknis di sistem NSW masing-masing," jelas Edy Putra.

Indonesia National Single Window (INSW) relatif paling maju dibandingkan negara anggota ASEAN lainnya. INSW mulai diterapkan sejak tahun 2007 dengan mengintegrasikan perizinan ekspor impor dari 18 instansi penerbit izin pada 15 Kementerian/Lembaga. Saat ini, INSW telah mampu melayani kegiatan ekspor/impor pada 21 Pelabuhan/Bandara atau mencakup lebih dari 92 persen total transaksi ekspor/impor di Indonesia.

Pada awalnya operasional INSW ditangani oleh Tim Persiapan NSW di bawah Kementerian Perekonomian dan diketuai oleh Menteri Keuangan. Dengan terbitnya Peraturan Presiden  Nomor 76 Tahun 2014 tentang Pengelola Portal INSW, Pengelola Portal INSW adalah badan permanen di bawah Kementerian Keuangan, dengan Dewan Pengarah Para Menteri yang diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.