Sosialisasi Dukungan Inhouse System Barantan Dalam Percepatan Implementasi INSW

Sosialisasi Dukungan Inhouse System Barantan Dalam Percepatan Implementasi INSW

Karantina Tumbuhan, Implementasi INSW (Indonesia National Single Window), sistem integrasi online pelayanan perizinan ekspor dan impor tahap kelima yang akan berjalan minggu ketiga Januari 2010 merupakan agenda kegiatan yang harus diikuti oleh Badan Karantina Pertanian sebagai inspection agency dari 8 institusi yang sudah terintegrasi dengan sistem NSW

Bertempat di Ruang Rapat Gedung E lantai I - Departemen Pertanian, pada  tanggal 07 Januari 2010, Pusat Informasi dan Keamanan Hayati menyelenggarakan Coffee Morning sebagai ajang sharing and discussion Lingkup Departemen Pertanian dengan agenda: 1) Pemaparan implementasi INSW di 5 (lima) pelabuhan laut/udara; 2) Koordinasi pelayanan perijinan secara elektronik; 3) Diskusi.

Acara yang dipimpin langsung oleh Kepala Badan Pertanian (Ir. Hari Priyono, MSi) ini dihadiri oleh para pejabat eselon I dan II Lingkup Departemen Pertanian atau yang mewakili (Badan Karantina Pertanian, Biro Hukum dan Humas, Pusat Perizinan dan Investasi, Pusat Data dan Informasi, Perbenihan Tanaman Pangan, Perlindungan Tanaman Pangan, Perlindungan Tanaman Hortikultura, Perbenihan dan Sarana Produksi-Ditjen Hortikultura, Perbibitan-Ditjen Peternakan). 

Saat ini terdapat 5 (lima) Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang sudah terintegrasi dengan sistem NSW, yaitu : BBKP Tanjung Priok, BBKP Surabaya (Tanjung Perak), BBKP Belawan, BKP Kelas I Semarang, dan BBKP Soekarno Hatta, sedangkan yang terintegrasi untuk kegiatan ekspor adalah BBKP Surabaya (Tanjung Perak), sebatas uji coba untuk komoditi ekspor yang perijinannya dari Depdag dan Dephut.

Dalam rangka percepatan implementasi INSW tersebut, Badan Karantina Pertanian telah mengembangkan sistem pelaporan secara elektronik dengan membangun Inhouse System untuk Karantina Hewan (Sikawan QV) dan untuk Karantina Tumbuhan (Eplaq). Inhouse System ini akan menerapkan sistem pelaporan paperless base, dimana mulai awal 2010 sudah didukung dengan jaringan Virtual Private Network (VPN) yang akan menghubungkan secara online 51 UPT Barantan beserta 331 wilayah kerjanya, serta menghubungkan ke-51 UPT tersebut dengan Pusat, sehingga tindakan perkarantinaan yang dilakukan selurub UPT Karantina Pertanian akan termonitor secara real time, beserta sistem pelaporannya yang dapat digunakan oleh stakeholder dalam menentukan strategi organisasi.

Saat ini, dua institusi lingkup Deptan yang sudah terintegrasi dengan INSW, yaitu Pusat Perijinan dan Investasi (PPI) dan Badan Karantina Pertanian (Barantan). Oleh karena itu pertemuan ini diadakan untuk menyusun kerangka  mekanisme  dan koordinasi internal Deptan dalam hal penerbitan dokumen perijinan secara elektronik (online), dimana kedepannya sangat diperlukan payung hukum untuk mekanisme secara elektronik tersebut. Pengiriman dokumen perijinan pemasukan/pengeluaran  secara online dibutuhkan oleh Barantan dalam memproses tindakan karantina pemasukan/impor atau pengeluaran/ekspor yang dapat diintegrasikan ke inhouse system Barantan. Laporan realisasi penggunaan ijin dapat diinformasikan kepada penerbit ijin dalam bentuk web service.

Selain Inhouse System SIkawan QV dan E-Plaq, Barantan telah mengembangkan dan menyempurnakan berbagai program aplikasi terkait tindakan perkarantinaan yang operasionalisasinya secara computerize, diantaranya yaitu Sistem Informasi Manajemen Laboratorium (SIMLAB) yang sudah mengacu pada SNI ISO/IEC 17025 : 2008, PPK Online (Permohonan Pemeriksaan Karantina Online) untuk Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan, E-Certificate, Executive Information System (EIS), dan UPT Sinkron untuk pengiriman data secara online. Inhouse System ini akan senantiasa disempurnakan supaya aplikatif dan tetap comply dengan peraturan yang berlaku.(RS)