FTA ASEAN-CHINA, Perlu Libatkan Swasta Menggarap SNI

FTA ASEAN-CHINA, Perlu Libatkan Swasta Menggarap SNI

JAKARTA-KOMPAS, Pemerintah perlu segera melibatkan pihak swasta untuk segera menggarap Standar Nasional Indonesia. Hingga saat ini, jumlah SNI yang ditetapkan pemerintah baru mencapai 50 jenis produk.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi mengungkapan hal itu dalam seminar "Peran Hukum Indonesia dalam Menteralisasi Dampak Negatif ASEAN-Chinna Free Trade Agreement" di Jakarta, Rabu (10/2).

Sofjan Wanandi mengatakan Standar Nasional Indonesia (SNI) salah satu strategi menahan banjirnya produk impor, terutama pasca implementasi FTA ASEAN-China.

Sambil berbebenah di sektor infrastruktur yang membutuhkan waktu bertahun-tahun, ujar Sofjan, penerbitan SNI perlu segera diproses agar barang-barang yang tidak sesuai dengan standar bisa terlebih dahulu dihadang.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan Perindustrian Edy Putra Irawady mengatakan "Banyak pengamanan isu pasar domestik yang menjadi pekerjaan rumah kita, Begitu pula penguatan daya saing global."

Secara terpisah, Menteri Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Syarifuddin Hasan mengatakan, kerisauan yang terjadi belakangan ini lebih pada kemampuan produk Indonesia bersaing dengan produk-produk China.

Menurut Syarifuddin, secara umum, jenis produk yang akan mengancam produk lokal adalah garmen, alas kaki, furnitur, kerajinan tangan dan mainan anak-anak.

Selain itu, jenis sayuran dan buah juga akan ikut membanjiri pasar dalam negeri.

Setelah meninjau pabrik PT Apac Inti Corpora di Bawen, Semarang, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu meminta pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) mempercepat pemulihan dengan mendorong diversifikasi pasar ekspor kesejumlah negara ASEAN.

Sejumlah pengusaha sudah mendiversifikasi pasarnya ke sejumlah negara ASEAN. Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno menambahkan, pasar ASEAN saat ini disebut sebagai pasar lokal industri TPT karena tarif bea masuk antar negara ASEAN nol persen.

Beberapa negara yang pertumbuhan garmennya tinggi seperti Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar bisa menjadi pasar kain dari Indonesia.

Benny menjelaskan pemulihan industri TPT Indonesia terlihat dari tonase produksi yang kembali meningkat. Pada tahun 2007 dicapai 2,1 juta ton pertahun dan turun menjadi 1,8 juta ton pada 2009.

Tahun ini diperkirakan akan naik 2,1 juta ton. Tahun 2010 nilai ekspor TPT diperirakan naik dari 9,7 miliar dolar AS menjadi 10,7 miliar dolar AS.

Menperdag berjanji, pemerintah akan membantu melakukan promisi industri TPT ke luar negeri. Hambatan perdagangan di pelabuhan, cukai dan kemacetan di jalan akan diminimalisasi. Sementara untuk pasar dalam negeri, pemerintah akan mencegah penyelundupan dan perdagangan yang tidak adil, terutama untuk garmen.

Ketika berkunjung ke pabrik jamu Sido Muncul, Mari mengatakan, produk jamu merupakan satu dari sepuluh produk potensial yang perlu dikembangkan karena memiliki prospek besar di pasar global. (OSA/GAL)

Koran Kompas edisi Kamis 11 Februari 2010 - Bisnis dan Keuangan halaman 19.