Eksportir Harapkan NSW Efisienkan Cost

Eksportir Harapkan NSW Efisienkan Cost

MedanBisnis - Medan: Para eksportir meminta setelah diberlakukannya national single window (NSW) di Pelabuhan Belawan, maka tidak akan ada lagi penumpukan barang di Belawan. Mereka berharap sistem online itu juga mampu mengefisienkan cost para eksportir.

"Tapi ini masih untuk importir saja, belum untuk eksportir. Sistem ini bagus, para eksportir tidak perlu lagi bertatap muka dalam hal pengurusan ke instansi pemerintah atau manapun. Diharapkan bisa mengefisienkan waktu dan juga biaya," kata eksportir sekaligus importir dari Sumut, Khairul Mahali kepada MedanBisnis di Medan, Rabu (21/10).

Lebih lanjut Khairul mengatakan, sistem online yang diterapkan sejak kemarin bisa dipelihara. Menurutnya, jangan sampai suatu saat sistem tersebut ‘ngadat’ sehingga membuat para eksportir dan importir komplain.

Di tempat terpisah, Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) menyatakan, pemberlakuan sistem NSW di Pelabuhan Belawan pada hari pertama berjalan lancar, ditandai sejauh ini belum ada keluhan oleh pengusaha saat pelaksanaan. Kendati demikian, tak dipungkiri berbagai kendala kerap timbul pada masa transisi. "Sejauh ini belum ada yang lapor. Biasanya memang masa transisi ada kendala, namun kita harapkan tak terlalu prinsipal," ucap Sekretaris GPEI Sumut Sofyan R Subang, didampingi pengamat perdagangan luar negeri Suharil Latief.

Sofyan menjelaskan, kesiapan sistem NSW sudah berlangsung sejak lama agar saat pelaksanaan tidak dijumpai hambatan berarti. Pengusaha selaku eksportir telah terdaftar sebagai Perusahaan Pengguna Jasa Kepabeanan (PPJK), dan secara otomatis tidak akan dilayani jika tidak teregistrasi di data Bea Cukai.

Sistem NSW yang baru berlaku bagi para importir memang diharapkan memotong jalur birokrasi, serta waktu penyampaian barang dari luar negeri atau sebaliknya bisa dipercepat sehingga kelancaran arus barang berdampak pada biaya ekonomi tinggi mampu ditekan. "Dulu, kegiatan impor kontainer bisa sampai 27 hari di pelabuhan karena dokumen tak lengkap, bahkan terkadang gak tahu di mana letak kontainernya. Tapi, dengan NSW kelengkapan dokumen harus mutlak dipenuhi," jelas Sofyan. Dia menambahkan, NSW pertama kali diterapkan di Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Bandara Sukarno Hatta dan Belawan (Sumut), menyusul kemudian di Makassar nanti.

Dia mengakui selain memutus mata rantai birokrasi, hadirnya sistem ini juga dalam rangka penertiban importir yang selama ini dinilai "fiktif." Sumut hingga kini terdapat 755 importir dan hanya 450 perusahaan dinyatakan aktif berkegiatan importasi. Selama ini anggota GPEI mencapai 200 perusahaan dan juga tercatat sebagai importir.

Lebih lanjut, Suharil Latief mengungkapkan, kinerja realisasi impor Sumut berdasarkan data Badan Pusat Statistik menurun hingga 30,94%. Dia merinci, nilai impor Januari-Juli 2009 mencapai USD 1,47 miliar turun dibandingkan 2008 pada periode sama yakni sebesar USD 2,14 miliar. "Penurunan terjadi pada impor barang modal sebesar 27,4%, sedangkan raw material juga turun 34,22% dan barang jasa minus 24,49%," tukas Suharil.

Source